Korupsi di Kementerian Agama

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah menyelidiki korupsi pengadaan Alquran di Kementerian Agama. KPK dalam waktu dekat bahkan akan meningkatkan statusnya dari penyelidikan ke penyidikan.

KPK belum mengungkap berapa kira-kira duit negara yang dirampok dalam proyek pengadaan kitab suci umat Islam itu. KPK hanya menyebut korupsi terjadi dalam proyek pengadaan Alquran tahun anggaran 2009, 2010, dan 2011. Yang pasti, nilai tender pengadaan Alquran dalam tiga tahun anggaran mencapai lebih dari Rp30 miliar.

Ibarat petir di siang bolong. Kebanyakan kita pasti terhenyak mendengar kabar itu. Bagaimana mungkin kementerian yang berkhidmat menjaga moral bangsa tiba-tiba melakukan korupsi?

Bagaimana bisa kementerian yang semestinya menjadi benteng terakhir pencegahan korupsi justru berbuat korup? Apalagi yang dikorup pengadaan kitab suci pula.

Kita terkejut karena selama ini kita menganggap mereka yang bekerja dan menjabat di kementerian tersebut merupakan orang-orang yang tak mungkin berbuat korup atas pengadaan Alquran.

Informasi adanya penyimpangan anggaran di Kementerian Agama bukan barang baru. Contoh, pada Agustus 2002, Kejaksaan Agung mendapat laporan dugaan korupsi Rp116 miliar di Dirjen Pembinaan Kelembagaan Islam Kementerian Agama.

Contoh lain, pada Maret 2003, Badan Pemeriksa Keuangan menemukan penyelewengan dana pengadaan buku tahun anggaran 2001/2002 sebesar Rp16 miliar di Kementerian Agama.

Umat hingga kini juga mempertanyakan penggunaan dana abadi umat (DAU).

Kementerian Agama terkesan tidak transparan dalam pemanfaatan dana yang berasal dari bunga penyetoran ongkos naik haji itu.

Jangankan umat, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) pada akhir 2003 mengalami kesulitan mengaudit dana abadi umat yang mencapai Rp5 triliun hingga Rp6 triliun.

Yang publik tahu bahwa seorang pejabat tinggi Kementerian Agama telah divonis bersalah karena terlibat korupsi terkait dengan pelaksanaan ibadah haji. Tidak tanggung-tanggung yang melakukan korupsi tersebut ialah Menteri Agama Said Agil Al Munawar.

Pada Februari 2006, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memutuskan Said Agil terbukti menyelewengkan dana biaya penyelenggaraan ibadah haji sebesar Rp35,7 miliar dan dana abadi umat sebesar Rp240,22 miliar antara 2002-2004.

Kini kita terhenyak karena yang dikorup ialah dana pengadaan kitab suci. Yang suci pun dikorup, apalagi yang profan. Orang bisa berpikiran, Kementerian Agama saja korup, wajarlah bila kementerian lain korup pula.

Korupsi adalah korupsi, tidak peduli di kementerian mana itu terjadi. Uang negara adalah uang negara, yang harus dipertanggungjawabkan. Karena itu, korupsi pengadaan Alquran di Kementerian Agama sama seperti perkara korupsi lainnya yang harus dituntaskan.
Like this article ?

About Herbal Indonesia

Admin Blog

2 komentar

Click here for komentar
Thank you for commenting
Juli 19, 2012 8:01 AM

sepertinya kasus korupsi di indonesia susah hilangnya,,
apa mungkin tidak akan hilang, bahkan bertambah,,
tapi semoga saja ini ada akhirnya

Reply
Thank you for commenting
September 13, 2012 4:58 PM

agen judi bola online
Situs berita bola terlengkap terupdate
berita terlengkap seputar sepak bola dan bursa transfer pemain
yang juga menyediakan pembuatan account sbobet


yang juga menyediakan pembuatan account sbobet
judi bola sbobet

situs pencarian jodoh,berbasis social network buatan anak bangsa
situs kencan online cari jodoh berbasis social network
temukan jodoh dan pasanganmu di sini

Reply

Korupsi di Kementerian Agama
Join This Site Show Conversion CodeHide Conversion Code Show EmoticonHide Emoticon

Please comment with polite